1 DEKADE MAKATANA MINAHASA BERJUANG UNTUK TANA MINAHASA

ANUGERAH DAN KESAKRALAN 'MAKATANA' MINAHASA

admin makatanaminahasa

Ada sebuah nama, peristilahan atau pun sebuah tanda pengenal yang terbilang sakral di Minahasa. Ialah 'makatana'. Nama ini menjadi 'kotor' di era dark age Minahasa di sekitar tahun 1980an sampai akhir era 1990an. Kesuciannya tereduksi karena hempasan budaya asing yang menghampiri Minahasa.
Dari sisi keyakinan agama dan sistem negara. Makatana, diasosiasikan bagi mereka yang dikategorikan menyimpang dalam struktur sosial masyarakat rasional.
Pengobatan makatana, dan ilmu makatana, adalah peristilahan yang disamaratakan deng perdukunan atau persantetan sebagaimana di pulau Jawa. Kekarbitan informasi siaran televisi ditambah propaganda yang dilakukan penguasa. Ilmu alam dan tradisi menjadi ancaman bagi mereka yang tak berbudaya. Hingga segala yang berbau tidak rasionalis adalah penyimpangan. Ini adalah dismoralitas pada masa itu.
Sebenarnya dalam tatanan sosial Minahasa nama 'makatana', adalah sebuah nama yang suci bagi Minahasa. Kata 'makatana' memiliki pengertian 'yang punya tanah' atau 'pemilik suatu wilayah' juga berarti 'daulat atau yang berdaulat' bisa juga diartikan 'berkerabat dekat'' bisa juga berarti 'leluhur' dan bisa juga 'Yang Kuasa'. Pengertian berkonklusi radikal.
Makatana yang artian juga berarti yang berdaulat. Seorang Makatana Minahasa didaulat sebagai Pahlawan Nasional. Momen bersejarah tersebut ditetapkan pada 8 November 2019 di Jakarta.
Alexander Andries Maramis nama lahirnya. Mesteer in de Rechten gelar hasil studinya di Belanda. Saat ini gelar tersebut setara dengan Magister Hukum. Tak ayal instingnya sebagai ahli hukum dengan pemikiran logis, sistematis dan kritis menjadikannya salah satu bintang dalam berdialektika di tim sembilan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Mr. Maramis adalah satu-satunya Minahasa sekaligus Orang Indonesia Timur serta beragama Minoritas Kristen dalam PPKI, yang akhirnya setiap orang di dalamnya disematkan "Founding Fathers" secara informal.

Jubah Mr. Maramis yang berlatarbelakang Indonesia Timur, beragama Kristen juga Minahasa, memperlihatkan keberagaman Indonesia. Dialah yang melopori penentangan Pancasila versi Piagam Jakarta sebagai dasar negara Indonesia. Minoritas dalam suku, agama, dan ras, menjadi kekuatan tersendiri dalam situasi penuh jiwa nasionalis tersebut. Jaminan membawa nama Maramis, adalah bentuk tanda pengingat dari filosofis nama itu sendiri. Karena nama dan marga di Minahasa memiliki nilai juga pengaruh yang akhirnya membawa penyandangnya untuk berefleksi akan arti dalam namanya. Gerakan politik Mr. Maramis tak sampai di Pra-Kemerdekaan, setelah Indonesia merdeka, keponakan Pahlawan Nasional Maria Maramis ini dipercayakan untuk melayani dengan tanggung jawab sebagai menteri.
Penetapan Mr. Maramis sebagai Pahlawan Nasional membangkitkan spirit keminahasaan bagi generasi terkini. Apalagi spirit untuk teguh melestarikan tatanan tradisi yang baik, dan menjaga tanah Minahasa dari ancaman fisik maupun gagasan, dilanjutkan oleh berbagai subjek hukum di Minahasa, apakah ia orang atau komunitas, tak terkecuali Ormas Adat Makatana Minahasa.
Ya, namanya Organisasi Masyarakat Adat Makatana Minahasa, dikenal Makatana Minahasa atau Makmin. Sebuah ormas yang memiliki kata 'makatana' sebagai identitasnya. Yang dengan sadar atau pun tidak, harus menanggung segala resiko karena menyandang nama 'makatana'. Saya akan membahas singkat tentang Makmin dalam merefleksikan eksistensi mereka. Meski saya tidak pemegang KTA (kartu anggota) Makmin dan juga secara organisatoris bukan anggota resmi Ormas Makmin, tapi secara kultural adalah juga Makatana Minahasa.
Ormas Makmin, salah satu ormas adat yang konsisten pergerakan keminahasaan sejauh ini. Berdiri pada tanggal 5 November 2011, tanggal yang sama dengan ulang tahun Minahasa. Sampai sejauh ini, Ormas Makatana Minahasa mampu bertanggung jawab akan keramatnya nama 'makatana'. Makmin dengan memperingati hari eksis mereka yang ke-8 tahun menggelar sebuah perayaan dengan ritual adat dan parade budaya. Sebuah angka yang masih sedikit dalam jumlah tapi telah banyak jumlah karya yang ditorehkan.
Saya pikir perayaan ini adalah bentuk bagian dari ziarah kultura untuk mendalami keminahasaan. Parade budaya yang diikuti oleh ribuan Kawasaran mengitari Manado. Bentuk ritual untuk menegaskan leluhur Minahasa masih ada dan tetap ada mengikuti derap langkah Manado yang kian berkembang menjadi kota majemuk. Kawasaran dengan filosofinya sebagai pembuka jalan, 'se an dior' yang berada di depan, guna membuka kembali ingatan warga Manado akan batasan tata cara hidup dan berinteraksi yang sesuai budaya Minahasa.
Santi melambangkan keberanian mengambil keputusan untuk hidup. Kelung melambangkan rendah hati untuk tetap bertahan hidup. Pesan tersirat leluhur Minahasa dan genggaman Waraney. Dari ziarah kultura yang digawangi Makatana Minahasa menggali jejak nilai hidup Minahasa.
Teringat tutur budayawan Minahasa, Fredy Wowor, bahwa nama itu adalah pesan leluhur yang disematkan pada generasi terkini demi mengilhami karya yang terekam dalam era. Dengan menyebutkan nama, kita telah mendoakan orangtua, leluhur, dan tanah tinggal. Nama sebagai identitas, dan identitas sebagai cerminan diri. Bisa dikatakan Ormas ini pun menjadi demikian karena menyandang nama yang sakral dan penuh nilai filosofis Minahasa.
Niaku Si Makatana Minahasa!
I Yayat U Santi!


sumber:



berita dan informasi Badan Pengurus Pusat Badan Pengurus Daerah Pendaftaran Anggota Pakasaan divisi informatika