Ada apa sih di Watu Pinawetengan setiap tanggal 3 Januari?

admin makatanaminahasa

Ada apa sih di Watu Pinawetengan tanggal 3 Januari, dimana setiap tahun selalu banyak orang dari berbagai arah tanah minahasa berkumpul???
ada yang bilang Tahun baru Minahasa?
ada yang bilang upacara adat?
apa makna dan arti Tradisi Tumo'tol??bagi yang belum tahu, berikut penjelasan lengkap dari Tonaas Wangko Makatana Minahasa dan Komunitas adat Waraney Wuaya Rinto Taroreh. 

Soal tradisi ziarah di Watu Pinawetengan pada awal tahun, dijelaskan oleh Rinto Taroreh. Budayawan yang juga dikenal sebagai seorang Tonaas, parapsikolog. Menurutnya, kebiasaan masyarakat setiap tanggal 3 Januari sangat berhubungan dengan dua tradisi yang berkembang di masyarakat Minahasa.
“Ini sebenarnya terkait erat dengan ritual mahelur atau babuju. Tradisi masyarakat Minahasa untuk bagaimana berdamai dengan Tuhan dan alam agar hasil panen di tahun tersebut tidak rusak dan berkat mengalir baik,” jelasnya.
Hal lain yang menurut Taroreh ikut mempengaruhi kebiasaan itu adalah tradisi para muda-mudi untuk mencari bunga di kawasan Kakeretan atau Tonderukan. Sebuah pegunungan di sekitar Watu Pinawetengan.
“Jadi ada kebiasaan anak-anak muda mencari bunga warna-warni untuk dipakai dalam hari-hari besar sebagai hiasan. Ya, salah satunya bunga edelweiss. Bunga itu dipilih karena menarik dan tahan,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan, sebenarnya tradisi berkunjung setiap tanggal 3 Januari itu belum juga terlalu lama. “Menurut cerita orang tua, kebiasaan seperti sekarang baru mulai tampak sekitar tahun 1970-an, ketika jalan ke Watu Pinawetengan sudah bagus. Tapi kalau kebiasaan masyarakat Minahasa berziarah ke sana sudah jauh lebih lama dari itu. Sebab masyarakat Tinoor saja punya banyak foto ketika mereka berziarah ke sana pada tahun 1920-an dan 1930-an,” paparnya.
UPACARA MERAYAKAN KEHIDUPAN
Di Minahasa, sejak kekristenan masuk, sudah menjadi kebiasaan merayakan Tahun Baru dua hari berturut-turut. Tahun Baru pertama dan kedua. Pada hari yang ketiga, orang-orang biasa memanfaatkan waktu untuk rekreasi bersama keluarga, kerabat, teman. Kawasan Bukit Tonderukan dimana Watu Pinawetengan berada, jadi salah satu lokasi favorit masyarakat untuk kegiatan tersebut.
Menurut Rinto Taroreh, di momen bersamaan, para Tonaas datang ke Watu Pinawetengan untuk melakukan upacara tumo’tol.
“Dari dulu kan sudah terbiasa ada perayaan taon baru pertama dengan kadua. Pas hari katiga, orang-orang barekreasi di sekitar Watu Pinawetengan. Bertepatan dengan itu, para Tonaas tua melakukan upacara tumo’tol,” ungkapnya.
“Kata tumo’tol itu dari kata dasar to’tol. Artinya lebih ke ibarat batu pondasi, batu dodika. Jadi upacara itu untuk meletakkan pondasi, meletakkan awal di tahun yang baru,” tandas Taroreh.
Pokok dari upacara itu adalah merayakan kehidupan. Sebuah ekspresi syukur terhadap Sang Khalik atas berkat yang telah dikaruniakan-Nya.
“Tu pokok merayakan kehidupan dengan cara baku-baku bae. Dalam pengertian, torang samua da umur panjang. Da riki tu taon yang baru. Karna so riki taon baru, musti batantu bae-bae tu langkah. Itu tu hati harus tenang. Karena mo berhubungan deng orang jadi torang musti mulai deng bae-bae,” jelasnya.
Jauh sebelum tradisi rekreasi itu, orang Minahasa memang telah terbiasa melakukan upacara tumo’tol di Watu Pinawetengan. Lambat laun, tradisi ini berkembang.
“Orang ka sana sebenarnya untuk upacara mahelur, baator. Dalam pemahaman, mo mahelur, mo baator di sana untuk meletakkan pondasi awal. Jadi tu bator tiap tanggal 3 Januari itu tidak sembarangan,” tegasnya.
Karena itu, orang-orang Minahasa yang bersua di kawasan Watu Pinawetengan dahulu dalam rangka mengekspresikan sikap yang baik terhadap sesama.
“Di sana, tampa torang mo baku dapa deng mo baku-baku bae. Tanggal 3 Januari bukan sekedar rutinitas. Kita harus memaknai baik-baik tanggal itu. Bukan sekedar seremoni, rutinitas semu. Lebih dari itu untuk memaknai kehidupan,” kata Taroreh.
“Jadi, bagaimana mau merefleksikan, kita telah melewati tahun baru dan bagaimana harusnya kita melangkah ke depan. Di sana kita bertemu orang-orang yang sehati dengan kita di budaya. Torang baku dapa, baku pegang tangan, mengucap syukur ke Opo Empung, Tuhan Yang Baik. Meghormati orang tua, para leluhur melalui suatu upacara".


Penulis Rikson KarundengSumber Asli https://kelung.com/ziarah-3-januari-dan-distorsi-makna-upacara-tumotol/



berita dan informasi Badan Pengurus Pusat Badan Pengurus Daerah Pendaftaran Anggota Pakasaan divisi informatika