Mengenal lebih jauh apa itu "Maengket"

admin makatanaminahasa

Mendengar kata maengket di zaman sekarang terasa kaku di telinga masyarakat umum, Maengket adalah sebuah jenis tarian khas Minahasa. Tari ini dibawakan oleh penari dalam jumlah banyak, bisa hanya penari perempuan, hanya penari laki-laki ataupun campuran. Tarian ini menggunakan gerak dan irama yang sederhana. Iringan untuk Maengket adalah musik tambor. Pada Zaman dahulu Maengket dipentaskan setiap kali panen usai. Namun, seiring perkembangannya tari Maengket tidak hanya menjadi tari usai panen saja, tetapi juga tari untuk menyambut tamu. Selain itu, digunakan juga untuk merayakan hari-hari besar. Bahkan, tari Maengket kini menjadi sarana promosi terutama dalam dunia pariwisata. 
Maengket terdiri dari beberapa bagian babak, yaitu

babak pertama Maramba menceritakan tentang tradisi menaiki/memasuki rumah baru, dengan ritual adat. Ritual menaiki rumah baru ini, atas cara tertentu menjadi pertanda bahwa sebuah rumah harus diuji kekuatan konstruksinya dengan gerakan rumamba (menginjak-injak) lantai rumah dengan kekuatan penuh. Dalam syairnya berbunyi demikian: "ya meyemo kita, meyemo, rumamba mo, rumamba mo tumbale weru e" (hai marilah kita semua, mari kita menginjak-injak lantai rumah, menginjak-injak rumah baru).

babak kedua, Makamberu menunjuk kepada nyanyian dalam tarian berupa perayaan syukur atas panen padi orang Minahasa. Ketika mereka memetik padi, mereka menyanyikan dengan gembira dan sukacita, karena panen ini adalah hasil yang mereka tuai. Kamberu (padi baru, makanan baru) adalah berkat dan bahkan ungkapan kasih yang Maha Kuasa (meyrara'ateme ni Wailan), kepada manusia. Hal ini mengandung makna bahwa kehidupan manusia adalah sebuah berkat dari Yang Mahakuasa. Maka dari itu, kita perlu memaknainya dengan ucapan syukur dan doa.

babak ketiga Lalayaen, sebuah bentuk cerita muda mudi yang bertemu namun tetap bersyukur kepada Tuhan. Hal ini menandakan bahwa perjalanan kehidupan sepasang muda mudi, untuk ukuran tertentu, berada dalam penyelenggaraan Ilahi. "Mahalik lik antana aku imenero genang genangan,  Sangalian endo inania wo tare kita mawerenan, Pina liliuz kula makasa ko karia". Semua proses perjalanan pemuda-pemudi dalam usaha mencari, mengenal dan mengasihi satu sama lain, membangun ingatan dan kenangan satu sama lain. Semua itu pun pada akhirnya disatukan dengan ucapan syukur kepada Tuhan, lewat ungkapan "Wailan tumou tou tou, itou tou irake-rakek ta e" Yang Mahakuasa hidup dan dipuja puji.


itulah sekilas tentang seni dan tradisi maengket, yang berasal dari ucapan syukur sampai menjadi tradisi turun temurun. mari kita tou muda minahasa melestarikan seni dan tradisi ini agar tidak punah.



berita dan informasi Badan Pengurus Pusat Badan Pengurus Daerah Pendaftaran Anggota Pakasaan divisi informatika